Makan Sehat Masa Kini

Silahkan post komentar, saran, pertanyaan atau input untuk topik bahasan. Seluruh input akan diterima dengan baik atau diresponse dengan seceria mungkin ^__^

Penolakan terhadap insulin dan sindrom metabolik

Posted by rin-rin pada September 2, 2008

Sindrom metabolik adalah sekelompok penyakit metabolik yang termasuk hipertensi, dislipidimia (misalnya: kadar trigliserida yang tinggi, kadar total kolesterol yang tinggi, kadar kolesterol HDL (high density lipoprotein) yang rendah, kadar kolesterol LDL (low density lipoprotein) yang tinggi, dll), dan obesitas sentral atau kegemukan di perut (walaupun sering kali sindrom metabolik bisa berkembang di orang-orang yang tidak kegemukan).

 

Salah satu faktor terbesar yang mengakibatkan sindrom metabolik itu adalah cacat di metabolisme glukosa, penolakan terhadap insulin (mengakibatkan pengeluaran insulin berlebihan untuk mengregulasikan gula darah)—ini adalah kondisi dimana jumlah insulin tidak mencukupi untuk memproduksi reaksi insulin yang normal dari lemak, otot maupun sel-sel hati. Penolakan terhadap insulin di sel-sel lemak menurunkan efek dari insulin yang mengakibatkan peningkatan hidrolisis  trigliserida tersimpan. Peningkatan mobilisasi lemak tersimpanpun mengakibatkan asam lemak bebas di plasma darah. Penolakan terhadap insulin di sel-sel otot akan menurunkan pengambilan glukosa, sedangkan penolakan terhadap insulin di sel-sel hati menurunkan penyimpanan glikogen, membuatnya tidak bersedia untuk dilepas ke darah waktu insulin darah plasma sedang jatuh (biasanya cuman waktu kadar glukosa darah rendah). Keduanya pun mengakibatkan kadar gula darah untuk meningkat. Kadar plasma insulin dan glukosa yang tinggi karena penolakan terhadap insulin sering menuntun ke sindrom metabolik dan diabetes tipe 2 termasuk komplikasinya.

 

 

 

 
 
 

 

 

Pola makan kita sangat berpengaruh untuk memperbaiki penolakan terhadap insulin dan moderasikan insulin berlebihan. Faktor-faktor besar yang akan memberi dampak positif terhadap insulin termasuk berolaraga, menurunkan kalori yang diasup, dan menurunkan berat badan.

 

Memilih makanan yang menyediakan glukosa ke sel-sel tubuh dengan teratur sehingga insulin termoderasikan juga akan mencegah penolakan tubuh terhadap insulin. Kita bisa memakai glycemic index sebagai salah satu panduan karena glycemic index mengukur efek kegula darah dari jumlah yang sama di kabohidratnya dari makanan-makanan yang berbeda.

 

Faktor yang mempengaruhi glycemic index termasuk 1) Bentuk fisik makanan (misalnya jus apel dan apel, jus apel akan punya glycemic index lebih tinggi). 2) Beda-beda jenis makanan (misalnya beras putih, beras merah, dan ketan). 3) Keberadaan lemak di makanan. 4) Kematangan makanan (misalnya di buah-buahan). 5) Apakah protein dan lemak di makan bareng kabohidrat. Dan 6) struktur jenis kanji di dalam makanan (misalnya makanan yang kadar amylose-nya lebih tinggi akan mempunyai glycemic index lebih rendah).

 

Secara general, makanan yang mempunyai kadar serat yang tinggi biasanya mempunyai kadar glycemic index yang rendah. Mengkombinasikan jenis makanan juga akan membantu mengatur kadar gula darah. Misalnya kombinasikan nasi putih (kabohidrat),  kuah sayur (serat) dan daging goreng (protein dan lemak) itu lebih bagus dari pada cuman makan satu macam misalnya bakmie polos (kabohidrat) saja.

 

Pola makan yang di rekomendasikan untuk mengatur sindrom metabolik dari total kalori: 15% dari protein, 5-10% dari lemak jenuh, 30-35% dari lemak tidak jenuh, dan 45% dari kabohidrat.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: